Ambon, kedua kalinya dinas ke kota ini, tetapi kali
ini ada yang berbeda. Iya, kali ini saya sudah mengantongi lisensi menyelam dan
saya memutuskan berakngkat lebih dulu dari anggota tim kerja yang lain.
Sebelum berangkat saya sudah lebih dulu mencari
informasi mengenai titik-titik penyelaman yang menarik di Ambon, dan Hukurila
menjadi pilihan saya. Untuk melakukan penyelaman tersebut saya menghubungi pihak Pari Diver yang nomer kontaknya saya
dapat di internet. Karena saya hanya sendiri, biayanya menjadi sangat mahal. Saya kemudian meminta
bantuan teman saya disana, Eko a.k.a Gokong, untuk mencarikan informasi lain
mengenai biaya menyelam dari kenalannya. Hingga pada akhirnya saya tau bahwa
orang yang saya hubungi dan dihubungi Gokong adalah orang yang sama, yaitu Pak
Pieter Moein dari Pari Diver. Setelah bernegoisasi dengan sedikit mengiba
akhirnya dicapai kesepakatan yangtetap saja mahal untuk saya pribadi. Tapi kesempatan menyelam di spot terbaik di Ambon ini tidak akan saya lewatkan hanya karena harga.
Pada hari penyelaman saya pun berangkat menuju
kedian Pak Moein dengan diantar oleh Romez. Sampai disana ternyata semua alat
sudah disiapkan dan langsung berangkat, dan ada teman Pak Moein yang turut
serta yaitu Yakub, warganegara Ceko yang sudah beberapa bulan tinggal dan
bekerja di Maluku. Hanya butuh waktu 1 jam untuk sampai di desa hukurila dan kami
pun segera turun untuk penyelaman pertama.
Menuju lokasi penyelaman pertama kami menggunakan perahu mesin warga
setempat yang memang sudah sering digunakan oleh para penyelam yang ke tempat
itu. Hanya berjarak 15 menit dari bibir pantai. Lokasi penyelaman pertama
berupa tebing yang memiliki lubang yang saling terhubung seperti labirin mini.
Disini saya menemukan bahwa komposisi karang di Hukurila lebih beragam dan
lebih menarik daripada yang ada di Jayapura tetapi jumlah ikannya sangat
sedikit. Mengenai penghuninya saya tidak bisa menjelaskan karena gak ngerti
juga ngejelasinnya. Cuma bisa menikmat dan foto-foto tentunya.
Selesai penyelaman pertama saya merasa sangat
pusing sehingga kami beristirahat 2 jam sebelum penyelaman kedua. Pusing yang saya alami kemungkinan karena
saya terlalu banyak menahan napas karena ingin menghemat oksigen yang mana hal
tersebut sangat tidak boleh dilakukan. Ditambah sebelum
menyelam saya mengkonsumsi vitamin. Hal itu juga mempengaruhi kondisi fisik
ternyata.
Setelah merasa cukup pulih kami pun bergerak
dengan perahu kembali menuju lokasi penyelaman kedua. Lokasi kedua merupakan
gugusan karang yang datar, dan jumlah ikannya relatif lebih banyak dan beragam
dibanding lokasi pertama. Tetapi apa daya kepala saya kembali merasakan pusing
yang sangat berat sehingga saya meminta untuk segera naik dan menyudahi
penyelaman. Sangat disayangkan memang, tetapi saya tidak ingin memaksakan diri
karena masih ada lain waktu, semoga saja sampai saat itu tempat ini belum
dirusak oleh tangan-tangan nakal tak bertanggungjawab.
Selagi Pak Moein dan krunya membereskan peralatan menyelam kami, saya menyempatkan diri untuk tidur di atas be
batuan pantai yang hangat sambil menikmati suara deburan ombak dan sejuknya angin pantai. Setelah beres kami pun kembali ke rumah Pak Moein . Disitu saya bersistirahat sebentar sembari menunggu untuk mendapatkan copy-an foto-foto penyelaman saya tadi. Penyelaman sudah dilakukan, foto-foto sudah di tangan, dan saya pun berpamitan dengan Pak Moein semoga bertemu di kesempatan menyelam berikutnya.
batuan pantai yang hangat sambil menikmati suara deburan ombak dan sejuknya angin pantai. Setelah beres kami pun kembali ke rumah Pak Moein . Disitu saya bersistirahat sebentar sembari menunggu untuk mendapatkan copy-an foto-foto penyelaman saya tadi. Penyelaman sudah dilakukan, foto-foto sudah di tangan, dan saya pun berpamitan dengan Pak Moein semoga bertemu di kesempatan menyelam berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar