Berhubung HP saya yang ada
aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia sudah hilang dicuri orang, kali ini saya
tidak mau susah payah mencari artinya.
Ketika seseorang terluka secara
fisik, maka luka itu akan membekas. Dan beberapa dari bekas luka itu akan terus
menemani sampai tiba hari kematian. Ada juga luka luka kecil yang tidak terlalu
kentara karena bisa sembuh sendiri walau prosesnya lama karena melalui proses
benang-benang fibrin kalo istilah medis yang saya tau waktu SD dulu.
Kalau luka secara non fisik saya
tidak mengerti, silahkan tanyakan pada Galileo.
Kalau saya sendiri sepertinya
sudah cukup banyak mengalami luka fisik, dan banyak juga yang bekasnya masih
terlihat jelas sampai sekarang.
Waktu balita saja pernah jungkir
balik dari kereta dorong yang bentuknya melingkar itu, yang sekalian buat
belajar jalan. Entah belajar darimana, menurut cerita mamah lokasinya di teras
rumah yang lebh tinggi dari halaman, saya mulai berlari dan setelah kereta
dorong melaju saya pun mengangkat kaki dan duduk santai meluncur hingga jatuh ke
haklaman. Akibat kejadian itu mungkin meninggalkan bekas luka, tapi bukan luka
secara fisik. Ya kalian bisa tau sendirilah kalau liat saya.
Beranjak ke anak-anak, bermain
perosotan di tiang listrik besi yang bisa dijangkau karena ada cabang pohon
jambu kelutuk yang menjulur ke arah tiang listrik besi itu. Selagi berdiri di
cabang pohon saya berlagak dengan melepaskan pegangan tangan, entah bagaimana
tiba-tiba saya terpeleset dan jatuh ke parit yang airnya kotor sekali hingga
berwarna hitam. Robek di pelipis kiri, hampir kena mata, dan dijahit.
Masih juga anak-anak, lari-larian
di halaman tetangga hingga akhirnya jatuh tersungkur yang mengakibatkan perut
kena pecahan kaca. Robek, jahit. Bekasnya terlihat jelas di perut, dan jika ada
orang yang tanya mamah saya selalu menjawab, “ditikam orang Karo”. Kenapa
jawabnya begitu? Entahlah, mamah saya suka bercanda. Bahkan bekas jahitan di
leher dibilang karena dulu nelan kelereng, ngeluarinnya dibedah trus dijahit
lagi, padahal tidak demikian. Sepertinya sih.
Main di jalanan, ada sepeda
lewat, entah bagaimana prosesnya tiba-tiba tangan saya sudah nyangkut di
jari-jari sepeda orang. Terkilir, diurut.
Lompat dari pohon jambu kelutuk
depan rumah, celana nyangkut, lalu robek, alhasil jatuh dengan hidung mancung menghantam
tanah duluan. Sakit puang.
Waktu SMP kelas 2, lari-larian
masuk kelas dan kena jegal teman, tangan dislokasi. Sampai sekarang tangan
masih gak bener. Gak bisa hormat bendera. Cacat.
Bermain bola dalam turnamen
sepakbola kaki ayam tingkat kecamatan, baru lima menit bermain sudah nginjak
beling. Kaki kanan robek dan dijahit, dan ternyata sampai sekarang masih ada
bekas jahitan.
Dari telapak kaki hingga kepala. Semua
ada bekas luka. Seakan luka-luka tersebut berkata “CUKUP!”, dan luka luka lain
tidak ada lagi yang datang hingga sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar