Minggu, 01 Desember 2013

LUKA



Berhubung HP saya yang ada aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia sudah hilang dicuri orang, kali ini saya tidak mau susah payah mencari artinya.
Ketika seseorang terluka secara fisik, maka luka itu akan membekas. Dan beberapa dari bekas luka itu akan terus menemani sampai tiba hari kematian. Ada juga luka luka kecil yang tidak terlalu kentara karena bisa sembuh sendiri walau prosesnya lama karena melalui proses benang-benang fibrin kalo istilah medis yang saya tau waktu SD dulu.
Kalau luka secara non fisik saya tidak mengerti, silahkan tanyakan pada Galileo.
Kalau saya sendiri sepertinya sudah cukup banyak mengalami luka fisik, dan banyak juga yang bekasnya masih terlihat jelas sampai sekarang.
Waktu balita saja pernah jungkir balik dari kereta dorong yang bentuknya melingkar itu, yang sekalian buat belajar jalan. Entah belajar darimana, menurut cerita mamah lokasinya di teras rumah yang lebh tinggi dari halaman, saya mulai berlari dan setelah kereta dorong melaju saya pun mengangkat kaki dan duduk santai meluncur hingga jatuh ke haklaman. Akibat kejadian itu mungkin meninggalkan bekas luka, tapi bukan luka secara fisik. Ya kalian bisa tau sendirilah kalau liat saya.
Beranjak ke anak-anak, bermain perosotan di tiang listrik besi yang bisa dijangkau karena ada cabang pohon jambu kelutuk yang menjulur ke arah tiang listrik besi itu. Selagi berdiri di cabang pohon saya berlagak dengan melepaskan pegangan tangan, entah bagaimana tiba-tiba saya terpeleset dan jatuh ke parit yang airnya kotor sekali hingga berwarna hitam. Robek di pelipis kiri, hampir kena mata, dan dijahit.
Masih juga anak-anak, lari-larian di halaman tetangga hingga akhirnya jatuh tersungkur yang mengakibatkan perut kena pecahan kaca. Robek, jahit. Bekasnya terlihat jelas di perut, dan jika ada orang yang tanya mamah saya selalu menjawab, “ditikam orang Karo”. Kenapa jawabnya begitu? Entahlah, mamah saya suka bercanda. Bahkan bekas jahitan di leher dibilang karena dulu nelan kelereng, ngeluarinnya dibedah trus dijahit lagi, padahal tidak demikian. Sepertinya sih.
Main di jalanan, ada sepeda lewat, entah bagaimana prosesnya tiba-tiba tangan saya sudah nyangkut di jari-jari sepeda orang. Terkilir, diurut.
Lompat dari pohon jambu kelutuk depan rumah, celana nyangkut, lalu robek, alhasil jatuh dengan hidung mancung menghantam tanah duluan. Sakit puang.
Waktu SMP kelas 2, lari-larian masuk kelas dan kena jegal teman, tangan dislokasi. Sampai sekarang tangan masih gak bener. Gak bisa hormat bendera. Cacat.
Bermain bola dalam turnamen sepakbola kaki ayam tingkat kecamatan, baru lima menit bermain sudah nginjak beling. Kaki kanan robek dan dijahit, dan ternyata sampai sekarang masih ada bekas jahitan.
Dari telapak kaki hingga kepala. Semua ada bekas luka. Seakan luka-luka tersebut berkata “CUKUP!”, dan luka luka lain tidak ada lagi yang datang hingga sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar