Kamis, 02 Januari 2014

Santa Claus is coming to town.

Desember lalu saat berkunjung ke Ambon, ada satu kebiasaan pada masa-masa menyambut Natal di Papua dan Maluku yang baru saya sadari adalah adanya kelompok-kelompok yang menyediakan jasa Sinterklas.
Apabila ada orang tua yang ingin memberikan kado Natal kepada anak-anak mereka, agar lebih berkesan mereka menggunakan jasa kelompok Sinterklas.
Kelompok Sinterklas ini biasanya dibuat oleh pemuda gereja ataupun kelompok masyarakat. Anggotanya akan berdandan seperti Sinterklas, Tuan Puteri, Pit Hitam dan ada juga kurcaci.
Cara kerjanya adalah, orang tua datang dan memberikan kado kepada kelompok Sinterklas dan memberitahukan yang mana anaknya yang akan menjadi target serta kenakalan-kenakalan apa saja yang dilakukannya. Setelah semua dipersiapkan, Sinterklas dan rombongan melaksanakan misi sesuai hari yang sudah ditentukan.
Rombongan biasanya menggunakan kendaraan berupa mobil bak terbuka, dan bunyi klaksonnya sudah diganti menjadi sejenis bunyi sirine, yang merupakan penanda khusus datangnya Sinterklas dkk.
Ketika anak-anak mendengar bunyi sirine tersebut seketika mereka berlarian ketakutan mencari tempat sembunyi.
Sampai di lokasi target, beberapa Pit Hitam (seluruh badan hingga muka pemuda yang memerankan dilumuri pewarna hitam) yang sudah menghapal anak yang menjadi target akan berakting menakutkan sambil mencari-cari target. Setelah target ditemukan, mereka akan mengejar dan menagkapnya hingga si anak ketakutan bahkan sampai menangis. Si anak lalu diserahkan kepada Sinterklas dan Tuan Puteri yang sudah menunggu di rumah si anak. Sinterklas pun menyebutkan kenakalan-kenakalan si anak, lalu bersama Tuan Puteri mereka menasehati si anak supaya jadi anak yang lebih baik lagi. Setelah dinasehati, kado pun diberikan. Misi selesai dan Sinterklas beserta rombongan kembali bergerak menuju target selanjutnya.
Saya jadi teringat ada lagu bertemakan natal yang sangat pas dengan kebiasaan masyarakat di Papua dan Maluku ini.

You'd better watch out, you'd better not cry
You'd better not pout, I'm telling you why
Santa Claus is coming to town
Santa Claus is coming to town
Santa Claus is coming to town

He's making a list, he's checkin' it twice
He's gonna find out whose naughty or nice
Santa Claus is coming to town
Santa Claus is coming to town
Santa Claus is coming to town

He sees you when you're sleeping
He knows if you're awake
He knows if you've been bad or good
(so you'd) better be good for goodness sake
Better be good for goodness sake

You'd better watch out, you'd better not cry
You'd better not pout, I'm telling you why
Santa Claus is coming to town
Santa Claus is coming to town
Santa Claus is coming to town

Wonderful Hukurila

Ambon, kedua kalinya dinas ke kota ini, tetapi kali ini ada yang berbeda. Iya, kali ini saya sudah mengantongi lisensi menyelam dan saya memutuskan berakngkat lebih dulu dari anggota tim kerja yang lain.
Sebelum berangkat saya sudah lebih dulu mencari informasi mengenai titik-titik penyelaman yang menarik di Ambon, dan Hukurila menjadi pilihan saya. Untuk melakukan penyelaman tersebut saya menghubungi  pihak Pari Diver yang nomer kontaknya saya dapat di internet. Karena saya hanya sendiri, biayanya  menjadi sangat mahal. Saya kemudian meminta bantuan teman saya disana, Eko a.k.a Gokong, untuk mencarikan informasi lain mengenai biaya menyelam dari kenalannya. Hingga pada akhirnya saya tau bahwa orang yang saya hubungi dan dihubungi Gokong adalah orang yang sama, yaitu Pak Pieter Moein dari Pari Diver. Setelah bernegoisasi dengan sedikit mengiba akhirnya dicapai kesepakatan yangtetap saja mahal untuk saya pribadi. Tapi kesempatan menyelam di spot terbaik di Ambon ini tidak akan saya lewatkan hanya karena harga.

Pada hari penyelaman saya pun berangkat menuju kedian Pak Moein dengan diantar oleh Romez. Sampai disana ternyata semua alat sudah disiapkan dan langsung berangkat, dan ada teman Pak Moein yang turut serta yaitu Yakub, warganegara Ceko yang sudah beberapa bulan tinggal dan bekerja di Maluku. Hanya butuh waktu 1 jam untuk sampai di desa hukurila dan kami pun segera turun untuk penyelaman pertama.  Menuju lokasi penyelaman pertama kami menggunakan perahu mesin warga setempat yang memang sudah sering digunakan oleh para penyelam yang ke tempat itu. Hanya berjarak 15 menit dari bibir pantai. Lokasi penyelaman pertama berupa tebing yang memiliki lubang yang saling terhubung seperti labirin mini. Disini saya menemukan bahwa komposisi karang di Hukurila lebih beragam dan lebih menarik daripada yang ada di Jayapura tetapi jumlah ikannya sangat sedikit. Mengenai penghuninya saya tidak bisa menjelaskan karena gak ngerti juga ngejelasinnya. Cuma bisa menikmat dan foto-foto tentunya.
Selesai penyelaman pertama saya merasa sangat pusing sehingga kami beristirahat 2 jam sebelum penyelaman kedua.  Pusing yang saya alami kemungkinan karena saya terlalu banyak menahan napas karena ingin menghemat oksigen yang mana hal tersebut  sangat  tidak boleh dilakukan. Ditambah sebelum menyelam saya mengkonsumsi vitamin. Hal itu juga mempengaruhi kondisi fisik ternyata.
Setelah merasa cukup pulih kami pun bergerak dengan perahu kembali menuju lokasi penyelaman kedua. Lokasi kedua merupakan gugusan karang yang datar, dan jumlah ikannya relatif lebih banyak dan beragam dibanding lokasi pertama. Tetapi apa daya kepala saya kembali merasakan pusing yang sangat berat sehingga saya meminta untuk segera naik dan menyudahi penyelaman. Sangat disayangkan memang, tetapi saya tidak ingin memaksakan diri karena masih ada lain waktu, semoga saja sampai saat itu tempat ini belum dirusak oleh tangan-tangan nakal tak bertanggungjawab.

Selagi Pak Moein dan krunya membereskan peralatan menyelam kami, saya  menyempatkan diri untuk tidur di atas be
batuan pantai yang hangat sambil menikmati suara deburan ombak dan sejuknya angin pantai. Setelah beres kami pun kembali ke rumah Pak Moein . Disitu saya bersistirahat sebentar sembari menunggu untuk mendapatkan copy-an foto-foto penyelaman saya tadi. Penyelaman sudah dilakukan, foto-foto sudah di tangan, dan saya pun berpamitan dengan  Pak Moein semoga bertemu di kesempatan menyelam berikutnya.









Minggu, 01 Desember 2013

Boy-nya darimana?

Nama asli saya adalah Steven Luther John Damanik.
Nama tersebut merupakan hasil pemikiran dari Opung, Bapa tua, dan orang tua saya.
Jika melihat secara Alkitabiah, sungguh suatu tanggungjawab yang besar untuk menyandang nama tersebut. Tetapi untungnya bukan itu yang mau saya tuliskan disini.
Selain di sekolah, saya selalu kesulitan membuat orang percaya bahwa nama saya adalah Steven ketika mengenalkan diri. Cukup kesal juga, tampang seperti apa rupanya yang cocok pakai nama Steven?
Karena itu, sejak pertama kali tiba di Jayapura hampir 3 tahun lalu, saya selalu mengenalkan diri saya dengan nama Boy, Boy Damanik, supaya lebih mudah dan tidak perlu repot meyakinkan orang lain. Baik di kantor, maupun di luar kantor.
Bahkan sampai sekarang masih banyak rekan satu kantor yang tidak tau nama asli saya. Hal ini sering menjadi pertanyaan ketika dalam kepanitian kegiatan ada muncul nama 'Steven Luther John Damanik. Selalu saja ada yang tanya, "itu siapa?".
Di sela-sela ngobrol santai dengan rekan kerja lalu muncul lah pertanyaan, "namamu itu Boy nya darimana?".
Mungkin orang tua saya pada saat saya lahir belum menyiapkan nama untuk saya.
Ketika seorang anak lahir pastinya memerlukan nama, setidaknya untuk panggilan untuk dikenalkan kepada saudara dan para tetangga.
Kalau untuk anak laki-laki, nama panggilan umum untuk orang batak pastinya 'Ucok'.
Beruntung, beberapa minggu sebelum saya lahir, ada lahir anak tetangga laki-laki dan sudah diberi nama panggilan 'Ucok'.
Dan orang tua saya mencari nama panggilan lain yang artinya juga anak laki-laki. Dan diputuskan nama panggilan itu adalah 'BOY'. Dan sejak itu orang tua saya selalu memanggil saya dengan nama Boy.

LUKA



Berhubung HP saya yang ada aplikasi Kamus Besar Bahasa Indonesia sudah hilang dicuri orang, kali ini saya tidak mau susah payah mencari artinya.
Ketika seseorang terluka secara fisik, maka luka itu akan membekas. Dan beberapa dari bekas luka itu akan terus menemani sampai tiba hari kematian. Ada juga luka luka kecil yang tidak terlalu kentara karena bisa sembuh sendiri walau prosesnya lama karena melalui proses benang-benang fibrin kalo istilah medis yang saya tau waktu SD dulu.
Kalau luka secara non fisik saya tidak mengerti, silahkan tanyakan pada Galileo.
Kalau saya sendiri sepertinya sudah cukup banyak mengalami luka fisik, dan banyak juga yang bekasnya masih terlihat jelas sampai sekarang.
Waktu balita saja pernah jungkir balik dari kereta dorong yang bentuknya melingkar itu, yang sekalian buat belajar jalan. Entah belajar darimana, menurut cerita mamah lokasinya di teras rumah yang lebh tinggi dari halaman, saya mulai berlari dan setelah kereta dorong melaju saya pun mengangkat kaki dan duduk santai meluncur hingga jatuh ke haklaman. Akibat kejadian itu mungkin meninggalkan bekas luka, tapi bukan luka secara fisik. Ya kalian bisa tau sendirilah kalau liat saya.
Beranjak ke anak-anak, bermain perosotan di tiang listrik besi yang bisa dijangkau karena ada cabang pohon jambu kelutuk yang menjulur ke arah tiang listrik besi itu. Selagi berdiri di cabang pohon saya berlagak dengan melepaskan pegangan tangan, entah bagaimana tiba-tiba saya terpeleset dan jatuh ke parit yang airnya kotor sekali hingga berwarna hitam. Robek di pelipis kiri, hampir kena mata, dan dijahit.
Masih juga anak-anak, lari-larian di halaman tetangga hingga akhirnya jatuh tersungkur yang mengakibatkan perut kena pecahan kaca. Robek, jahit. Bekasnya terlihat jelas di perut, dan jika ada orang yang tanya mamah saya selalu menjawab, “ditikam orang Karo”. Kenapa jawabnya begitu? Entahlah, mamah saya suka bercanda. Bahkan bekas jahitan di leher dibilang karena dulu nelan kelereng, ngeluarinnya dibedah trus dijahit lagi, padahal tidak demikian. Sepertinya sih.
Main di jalanan, ada sepeda lewat, entah bagaimana prosesnya tiba-tiba tangan saya sudah nyangkut di jari-jari sepeda orang. Terkilir, diurut.
Lompat dari pohon jambu kelutuk depan rumah, celana nyangkut, lalu robek, alhasil jatuh dengan hidung mancung menghantam tanah duluan. Sakit puang.
Waktu SMP kelas 2, lari-larian masuk kelas dan kena jegal teman, tangan dislokasi. Sampai sekarang tangan masih gak bener. Gak bisa hormat bendera. Cacat.
Bermain bola dalam turnamen sepakbola kaki ayam tingkat kecamatan, baru lima menit bermain sudah nginjak beling. Kaki kanan robek dan dijahit, dan ternyata sampai sekarang masih ada bekas jahitan.
Dari telapak kaki hingga kepala. Semua ada bekas luka. Seakan luka-luka tersebut berkata “CUKUP!”, dan luka luka lain tidak ada lagi yang datang hingga sekarang.

Sabtu, 07 September 2013

TEMAN



Apa itu teman? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, teman merupakan sinonim dari kawan yang artinya orang yang sudah lama dikenal dan sering berhubungan dalam hal tertentu (bermain, belajar, bekerja, dsb).
Apakah hanya begitu saja?
Menurut saya tidak. Teman memiliki arti yang lebih luas dari apa yang dijabarkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau Kamus Besar Bahasa negara manapun. Teman bukan sekedar orang yang sudah lama kita kenal, bukan hanya saling mengingat hari ulang tahun, bukan sekedar lama bermain bersama, bukan pula sekedar lama bekerja bersama.
Saya kenal banyak orang, dan sebagian besar pastinya sudah lama kenal. Tetapi tidak semuanya merupakan teman.

Di tempat kerja, walau hampir 3 tahun bekerja bersama, tidak semua orang di tempat kerja saya merupakan teman.


Saya sendiri kesulitan menjabarkan arti teman menurut saya namun saya mencoba menjabarkannya secara sederhana walau tak sesederhana seperti dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Teman adalah orang yang akan melakukan apa saja untuk temannya.
Teman adalah orang yang akan memberikan bantuan ketika dibutuhkan bahkan tanpa diminta. Dan ketika diminta bantuannya, dia akan langsung memberikannya tanpa banyak tanya, tanpa kecurigaan, murni kepercayaan. Ketika tidak dapat memberikan bantuan, dengan terus terang dia akan mengatakannya tanpa harus bingung mencari alasan.
Teman adalah orang yang berani dengan tegas menegur sesuatu yang menurutnya salah ataupun tidak pantas dilakukan. Tidak ada rasa segan yang tidak perlu sesama teman.
Teman adalah orang yang berdiri tegak membelamu ketika banyak orang berusaha menjelekkanmu atau menjatuhkanmu.
Teman adalah orang yang bisa memberikan dukungan yang dibutuhkan. 
Teman adalah orang yang bisa menjadikan dirimu pribadi yang lebih baik daripada dirimu yang sebelumnya melalui dukungan-dukungan yang diberikannya.
Teman adalah orang yang memiliki rasa ‘saling’ yang sama denganmu.

Masih banyak lagi kata-kata yang berputar di otak, biarlah itu saya simpan sendiri karena saya tidak mengerti cara menyampaikannya dalam tulisan yang bisa dimengerti orang lain.
Dari penjabaran yang tidak jelas di atas, yang paling penting adalah, kita bisa berteman dengan seseorang jika kita sudah saling menganggap bahwa dia adalah teman. Karena pertemanan bukan hubungan satu arah.
*Tulisan dengan tingkat kecerdasan diambang rata-rata ini disponsori oleh tenangnya mess di sore hari yang panas disertai televisi yang menyala hanya untuk memecah kesunyian.

Selasa, 06 November 2012

Tobati.Menjaring Mania.Bakar Ikan. Matahari terbit.

***TOBATI***
Abang, Ano, Awak, Edo Hamadi
Nama di atas adalah nama sebuah kampung di Jayapura. Kampung ini dibangun di atas perairan dangkal dipinggir sebuah pulau karang kecil yang kalo umum bilang ya rumah panggung. Transport utama mereka ya perahu, ada yang kecil ada yang sedang, ada yang bermesin ada yang tidak. Biasanya mereka menggunakan perahu kalau mau ke kota, menuju dermaga lalu menggunakan transportasi darat.
Selain untuk trasportasi, perahu juga mereka pakai untuk pergi memancing atau menjaring ikan.
Ada tinggal keluarga Hamadi yang seorang anaknya, Edo Hamadi, adalah pegawai di direktorat tempat awak kerja. nah, keluarga bang Edo ni punya perahu mesin, dan punya jaring ikan yang biasa mereka pakai menjaring. Sebelum awak datang ke Jayapura ini, kawan-kawan kantor sering minta pergi menjaring ikan kepada bang Edo Hamadi, dan bang Edo pun memfasilitasi mereka serta mengerahkan saudara-saudaranya untuk membantu penjaringan. (karna yang lain memang gak paham soal menjaring ikan, dan tujuan utama ya buat penyegaran jiwa dan pikiran aja).
Pas hari Jumat tanggal 2 nopember lalu awak berkesempatan ikut penjaringan ikan sama mereka. Perkiraan awak kalo menjaring ikan itu berarti ke tengah laut,,semangatlah awak. ternyata oh ternyata,,,,,

***MENJARING MANIA***
Persiapan menjaring ikan :
- yang rombongan awak ganti baju untuk basah-basahan
- yang keluarganya bang edo nyiapin jaring ke perahu.
- udah itu aja, padahal kalo mau lebih maknyos ya bawa termos isi kopi ato teh, ato dua termos sekalian isinya kopi dan teh.
Berangkatnya dari rumahnya bang Edo, jumlah kami total dua belas(12) orang. laki-laki semua. sudah jam 11 malam kayaknya.
menuju titik penjaringan, malam dingin, langit purnama bertabur bintang, di kejauhan terlihat kerlap-kerlip lampu kota Jayapura. Mantap Jaya dah!!!!
sekitar 20 menit berperahu mesin sampailah kami di titik penjaringan pertama, ternyata di pinggir pantai. awak kira ke tengah laut, ternyata tidak.
Lagi menggulung jaring langsung ke perahu
Begini proses penjaringan ikannya :
- kami dibagi dua (2) tim, yang pertama tim darat, yang kedua tim perahu.
- tim darat turun ke pantai sambil menahan satu ujung tali jaring yang panjang jaringnya hampir 300meter.
- tim perahu bergerak perlahan dengan perahu menyusuri pinggir pantai sekitar 20meter dari pantai sambil     menurunkan jaring. (kalo secara kasar ya macam busur gitulah pergerakannya)
- setelah jaring sudah ditutunkan semuanya, tim perahu juga turun ke pantai dan juga menarik ujung tali jaring yang satunya.
- kedua tim sama-sama menarik jaring ke darat secara perlahan dan hati-hati berharap banyak ikan yang terperangkap dan ikut terseret dalam jaring yang kami tarik.
begitu seterusnya kami lakukan sampai 3 kali di 3 titik berbeda. kenapa cuma 3 kali? sebenarnya tenaga masih banya, cuman jari yang tak sanggup lagi menarik tali jaring, akibat gak pakai sarung tangan.

***BAKAR IKAN***
Ikan yang berhasil kami jaring tidak bisa dibilang banyak, tetapi cukup memuaskan kami. Berbagai jenis ikan dan ada juga sejenis cumi yang cukup besar beberapa ekor. Nama-nama ikannya pun awak hampir tak ingat, aneh-aneh , yang awak ingat ya ikan samandar, ikan mubara, dan ikan daun tebu.
 Pada penjaringan yang kedua, ketika teman yang lain menggulung jaring, awak sempatkan membakar seekor ikan yang awak tak ingat namanya, selesai mereka menggulung jaring ke perahu dan akan berangkat ke titik penjaringan ketiga, ikan yang awak bakar pun udah mantap kayaknya, sambil bawa ikan yang masih panas ditusukan awak lompat ke perahu. Sepanjang perjalanan menuju titik penjaringan ketiga kami berebut menikmati ikan yang awak bakar, rasanya MANTAP KALI BAH!!!! Ikan segar, jaring, dapat, bakar, makan.
Heri Pagayang, Heri kalallembang, Awak
Selesai kami menjaring ikan sekitar jam 5 pagi, kami bersih-bersih danberganti pakaian dulu di rumahnya keluarga bang Edo Hamadi lalu kami  bersantai di sebuah pulau kecil tak berpenghuni, Pulau Debi namanya, walau tak berpenghuni tetapi disitu sudah ada pondok-pondok kecil yang bisa dipakai untuk bersantai. Disitu awak tidur karna udah ngantuk berat, yang lain sibuk ngobrol tak tentu arah sambil membakar beberapa ikan pilihan dan beberapa ekor cumi. Perut laparlah yang buat awak bangun ketika matahari terbit, dan beruntung masih ada seekor ikan bakar yang disisihkan buat awak =).

***MATAHARI TERBIT***
Selagi awak makan matahari terbitnya keliatan mantap kali keknya kalok dipoto, langsung awak jepret-jepret sekelak. Namanya jugak pakek hape, ya potonya standar ajalah, kalok awak ikut potopun ya jadinya siluet karna cahayanya awak belakangi.
Pas liat poto yang awak ambil, beghhh,,,,mantap kali cuy,,,menurut awak sih, gak penting jugak apa kata orang, hehehe,
Makin tinggi matahari ya makin biasa aja jadinya. Pulanglah kami ke rumah dengan diantar bang Edo dan adiknya ke dermaga. Sampai di dermaga si Akang sudah bersiap dengan mobil Pak Dasvor untuk membawa kami kembali ke komplek.
Desember nanti katanya musim ikan, dan direncanakan akan bersenang-senang lagi.
Menjaring ikan, mandi berenang tengah malam di laut, makan ikan bakar segar hasil tangkapan sendiri langsung dari laut, tak semuanya bisa. bahkan tak semua orang Jayapura.

Demi apapun!! Jangan pernah lewatkan kesempatan bersenang-senang dengan cara yang sangat sedikit orang dapat melakukannya.

Senin, 11 Oktober 2010

Kemana??

kalimat terakhir sepertinya perlu saia ketik ulang dengan huruf kapital semua
"TOLONG JANGAN RUSAK MORAL KAMI SEMUA"
dan pada akhirnya, yang menjadi pertanyaan adalah, kemana ini disampaikan??
ah,,,jika harus memilih, saia lebih memilih untuk SENYUM SAJALAH =)